Goresan Jiwa

Seorang Abie Sabiella…

Posted by Abie Sabiella on Januari 19, 2012

 Inilah aku ….

 

I’m Nothing …..

sekali lagi aku bukan apa2 di kehidupan ini …

Duhai Allah…,

ajarkan Hamba untuk mencinta dengan tulus tanpa meminta, ….

Jadikan diri Hamba selalu bersyukur

menerima atas segala cobaan dan ujian dari-Mu …

Derai airmata yang mengalir,

keluhan dan jeritan hati yang tersayat,

hanya Engkau yang sanggup menyembuhkannya ….

Kegagalan demi kegagalan memahami takdirMu

membuat hati Hamba Gundah, Goncang, dan terkadang terlepas dari tali-Mu …

Maafkan bila Hamba ya Robbb..,

jika sering Khilaf melakukan banyak kesalahan2 manusia ….

Inilah aku ….

Aku memang laki – laki biasa
Aku tak memiliki kelebihan
Aku tak terlalu tampan
Bahkan aku standar sekali
Wajahku tak sehalus sutra
Tinggiku standar tak seperti para model
Tubuhku juga Tak langsing
Kulitku tak seputih salju

Aku tak memiliki keahlian,
Aku hanyalah seorang pengembara yang hilang
Aku juga hanya seorang pekerja biasa
Otakku pun biasa saja

Tak ada yang dapat dibanggakan dariku
dan mungkin mereka akan berpikir
untuk tidak merasa perlu dekat denganku

Aku memang tak memiliki kelebihan
tapi aku selalu berusaha belajar
belajar menjadi lebih baik
untuk orang yang aku sayang, untuk  orang yang aku cintai

Aku tak ingin dia malu bersamaku
Aku ingin dia selalu bangga dan berharga.
Sekalipun aku tak seperti laki – laki di luar sana…

Inilah aku…

 @bie Sabiella

*************************

Rasaku…

Aku disini tengah menunggumu. Menunggu entah sampai kapan dan untuk apa. Yang ku rasakan hanya ingin terus bersamamu sekalipun kau tak ada di sampingku, bahkan mungkin kau tak akan pernah ada di sampingku.

Rasa ketakutan senantiasa menyelimuti malam – malamku. Berteman air mata yang tidak ternamakan. Dinginnya malam dan sunyinya suasana hatiku hanya membuat mata ini selalu terjaga ketimbang melelapkan.

Eidelweiss…, maafkan aku yang membelenggumu dengan rasa ini. Memberikanmu sejuta harapan dalam buih lautan mimpi. Memberi segala kepastian yang aku sendiri tidak dapat memastikannya. Aku mengacaukan dirimu. Aku menjadikan dirimu hancur…

Maafkan aku yang terlalu bodoh menyadari bahwa ini akhirnya akan menyakitimu. Mungkin memberimu luka. Bangunkan aku Eidelweiss…! Bangunkan…! Bangunkan aku, agar aku sadar akulah yang bersalah kerena menyalakan api. Api yang menjalani takdirnya dengan membakar. Aku siap terbakar. Sungguh-sungguh siap. Tetapi aku tak akan memaafkan diriku bila kau ikut merasakan panasnya…

Kini malam makin menyepi dan bersandar dibebatuan. Wanginya senyap dan gelapnya menggiriskan. Itukah yang memaksa kita selalu berjaga? Bulan sepotong di beranda tersenyum tolol padaku. Bintang, lalu-lalang jalanan, seekor kelelawar yang bandel, secangkir kopi dan sepotong roti bakar rasa pisang berkarib pada malam yang lelah ini.

Aku pernah mengatakan bahwa ini bukan urusan kepemilikan, kau sepakat sekaligus tak bersepakat. Tetapi yang pasti aku bertindak tidak adil padamu. Sungguh tidak adil. Aku menyakitimu bahkan tanpa aku menyadarinya. Aku si pungguk yang memaksa bulan tinggal di bumi. Mendandaninya dengan kilauan harapan dan menyandingkannya dengan kerinduanku…

Disini masih dengan rasa itu, aku menunggumu,
Menunggu keperpihakkan taqdir atas inginnya hatiku…

Lembah Penantian Abadi, 09092011

Abisabiella

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Surat tuk Calon Istriku…

Sengaja ku tulis surat ini untuk mu duhai calon pendamping hidupku, dan ku simpan surat ini di atas awan…

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…

Dear calon istriku…

Apa kabarnya imanmu hari ini? Sudahkah harimu ini kau awali dengan untaian rasa syukur karena dapat menatap kembali fananya hidup ini? Sudahkah air wudhu menyegarkan kembali ingatanmu atas amanah yang saat ini tengah kau genggam?

Wahai Calon Istriku…

Tahukah engkau betapa Allah sangat mencintaiku dengan limpahan kasih saying-Nya? Disini aku ditempa untuk menjadi dewasa, agar aku lebih bijak menyikapi sebuah kehidupan dan siap mendampingimu kelak. Meskipun kadang keluh dan putus asa menyergapi, namun kini kurasakan diri ini lebih baik.

Kadang aku bertanya-tanya, kenapa Allah selalu mengujiku tepat dihatiku. Bagian terapuh diriku, namun aku tahu jawabannya. Allah tahu dimana tempat yang paling tepat agar aku senantiasa kembali mengingat-Nya kembali mencintai-Nya.

Ujian demi ujian Insya Allah membuatku menjadi lebih tangguh, sehingga saatnya kelak kita bertemu, kau bangga telah memiliki aku dihatimu, menemani harimu..

Duhai Calan Istriku…

Entah dimana keberadaanmu saat ini, Tapi aku yakin Allah pun mencintaimu sebagaimana Dia mencintaiku. Aku yakin Dia kini tengah melatihmu menjadi mujahidah yang tangguh, hingga akupun bangga memilikimu kelak…

Apa yang kuharapkan darimu adalah ke-shalihah-an. Semoga sama halnya dengan dirimu. Karena apabila ketampanan yang kau harapkan dariku, hanya kesia-siaan yang kau dapati.

Aku masih haus akan ilmu dan pengalaman hidup, dengan berbekal ilmu dan pengalaman hidup yang ada saat ini, aku berharap dapat menjadi seorang suami yang mendapat keridhaan Allah dan dan dirimu duhai kekasih…

Wahai calon Istriku…

Saat aku masih menjadi asuhan ayah dan bundaku, tak lain doaku agar menjadi anak yang sholeh, agar kelak dapat menjadi Investasi keduanya di akhirat. Namun nanti, setelah menjadi suamimu, aku berharap menjadi pendamping yang sholeh agar kelak disyurga kita kan selalu bersama dan engkalah Ratu dari Bidadari – bidadari syurga itu…

Aku ini pencemburu berat. Tapi kalau Allah dan Rasulullah lebih kau cintai daripada aku, aku rela. Aku harap begitu pula dirimu.

Calon Istriku yang di rahmati Allah…

Apabila hanya sebuah gubuk menjadi perahu pernikahan kita, takkan kunamai dengan gubuk derita. Karena itulah markas dakwah kita, dan akan menjadi indah ketika kita hiasi dengan cinta dan kasih, dan gubuk itu adalah “Gubuk Syurgaku”.

Ketika kelak telah lahir generasi penerus dakwah islam dari pernikahan kita, Bantu aku untuk bersama mendidiknya dengan harta yang halal, dengan ilmu yang bermanfaat, terutama dengan menanamkan pada diri mereka ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala..

Bunga akan indah pada waktunya. Yaitu ketika bermekaran menghiasi taman. Maka kini tengah kupersiapkan diri ini sebaik-baiknya, bersiap menyambut kehadiranmu dalam kehidupanku, karena engkau adalah bunga dalam taman hatiku…

Kini aku sedang belajar menjadi yang lebih baik. Meski bukan yang terbaik, tapi setidaknya aku ingin menjadi yang terbaik disisimu kelak, InsyaAllah…

Duhai Calon Istriku…

Inilah sekilas harapan yang kuukirkan dalam rangkaian kata. Seperti kata orang, tidak semua yang dirasakan dapat diungkapkan dengan kata-kata. Itulah yang kini kuhadapi. Kelak saat kita tengah bersama, maka disitulah kau akan memahami diriku, sama halnya dengan diriku yang akan belajar memahamimu…

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…

Dari Lembah Penantian Abadi

_Calon Suamimu_

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

*~ If someday ~*~

by;  Kak Abie Fillah – 11 Sept 2010 – 13:57 wib

Jika suatu saat nanti aku pergi …

Aku harap kau mengerti,

Ini bukan karena kekalahan,

Apalagi sebab lelahku…

Tidak…! tidak…!

Sama sekali tidak…!

Percayalah ini hanya karena waktuku bersamamu disini telah usai

Sebab aku telah berjumpa dengan takdirku…

Jika suatu saat nanti aku pergi …

Aku harap kau percaya,

Aku telah memikirkannya sejak hari ini

Sebab itu kumohon jangan biarkan setitikpun air matamu jatuh untukku,

Kumohon ingatkan aku…, dan jangan ada kata sesal itu…

Jika suatu saat nanti aku pergi …

Tak perlu lagi mengenang kebersamaan kita,

Karena mungkin akupun akan segera melupakannya..:(

Dan lagi pula siapa Aku…?

Biarkan semua berjalan seperti apa adanya, Seperti jauh sebelum kita jumpa…

Sebab inilah jalanku, inilah Garis hidupku…

Jika suatu saat nanti aku pergi …

Sesekali datanglah ketempat yang pernah kita singgahi dulu,

Bukan untuk mengenangku atau mengingatku,

Tetapi karena hati kita yang meminta itu…

Dan nanti…

Jika aku benar-benar telah pergi,

Jangan biarkan aku menoleh meskipun untuk memandangmu,

Biarkan…, biarkan pada saatnya nanti…

Dari lembah penantian panjangku ini,

Kan kubawa kembali diri ini kepadamu dengan kereta kencana

Menjemputmu dari batas mimpi yang kugali hari ini…

Jika suatu saat nanti aku pergi …:(

*******************************************

SANDAL JEPIT…

Selera makanku mendadak punah, yang ada hanya ada rasa kesal dan jengkel yang memenuhi kepala ini. Duh… betapa tidak gemas, dalam keadaan  capek dan lapar memuncak seperti ini makanan yang tersedia di meja makan tak ada yang memuaskan lidah. Sayur sop ini rasanya manis bak kolak pisang, sedang perkedelnya asin nggak ketulungan.

“Ummi… Ummi.., kapan kau dapat memasak dengan benar sich…? Selalu saja, kalau tak keasinan…kemanisan, kalau tak keaseman… ya kepedesan..!”  Ya, aku tak mampu menahan emosi untuk tak menggerutu.

”Sabar bie…, Rasulullah juga sabar terhadap masakan Aisyah dan Khodijah. Katanya mau kayak Rasul…? ” ucap isteriku kalem.

“Iya sich…, tapi abie kan manusia biasa,  Abie belum bisa sabar seperti Rasul,  Abie merasa bosan dan jenuh kalau makan terus menerus seperti ini…!” Jawabku dengan nada tinggi. Mendengar ucapanku yang bernada emosi, kulihat isteriku menundukkan kepala dalam-dalam. Kalau sudah begitu, aku yakin pasti air matanya sudah meleleh…

***

Sepekan sudah aku ke luar kota. Dan tentu, ketika pulang benak ini penuh dengan jumput-jumput harapan untuk menemukan ‘baiti jannati’ di rumahku. Namun apa yang terjadi…? Ternyata kenyataan tak sesuai dengan apa yang kuimpikan. Sesampainya di rumah, kepalaku malah mumet tujuh keliling.

Bayangkan saja, rumah tak ubahnya laksana kapal pecah,  Pakaian bersih yang belum disetrika menggunung di sana sini. Piring-piring kotor berpesta pora di dapur, dan cucian… ouw… berember-ember. Ditambah lagi aroma bau busuknya yang menyengat, karena berhari-hari direndam dengan detergen tapi tak juga dicuci.

 Melihat keadaan seperti ini aku cuma bisa beristigfar sambil mengurut dada. “Ummi…ummi…, bagaimana abie tak selalu kesal kalau keadaan terus menerus begini…?” ucapku sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Ummi… ,isteri sholihah itu tak hanya pandai ngisi pengajian, tapi dia juga harus pandai dalam mengatur segala urusan rumah tangga. Harus bisa masak, nyetrika, nyuci, jahit baju, beresin rumah…?” Belum sempat kata-kataku habis sudah terdengar ledakan tangis isteriku yang kelihatan begitu pilu.

 “Ach…dasar perempuan…, gampang sekali untuk menangis…,” bathinku berkata dalam hati. “Sudah diam  mie…, nggak boleh cengeng, katanya mau jadi isteri shalihah…? Isteri shalihah itu nggak cengeng lho mie…,” bujukku hati-hati setelah melihat air matanya menganak sungai dipipinya.

“Gimana nggak nangis…! Baru juga pulang sudah ngomel-ngomel terus, rumah ini berantakan karena memang ummie tak bisa mengerjakan apa-apa, jangankan untuk kerja untuk jalan saja susah, abie gak tau ummie kan muntah-muntah terus, ini badan rasanya tak bertenaga sama sekali,” ucap isteriku diselingi isak tangis. “Abie nggak ngerasain sich bagaimana maboknya orang yang hamil muda…” Ucap isteriku lagi, sementara air matanya kulihat makin deras mengalir…

***

 Bie…, siang nanti antar Ummi ngaji yach…?” pinta isteriku. “Aduh, mie… , abie kan sibuk sekali hari ini, berangkat sendiri saja yach…?” ucapku. “Ya sudah, kalau abie sibuk, Ummi e naik bus umum saja, mudah-mudahan nggak pingsan di jalan,” jawab isteriku. “Lho, kok bilang gitu…?” sela-ku. “Iya, dalam kondisi muntah-muntah seperti ini kepala Ummi e gampang pusing kalau mencium bau bensin. Apalagi ditambah berdesak-desakan dalam bus dengan suasana panas menyengat. Tapi mudah-mudahan sih nggak kenapa-kenapa,” ucap isteriku lagi. “Ya sudah, kalau begitu naik bajaj saja,” jawabku ringan.

***

Pertemuan yang telah ku jadwalkan hari ini ternyata harus  diundur pekan depan karena ada beberapa elemen pendukung belum terpenuhi. Kesempatan waktu luang ini kugunakan untuk menjemput isteriku. Entah kenapa hati ini tiba-tiba saja menjadi rindu padanya. Motorku sudah sampai di tempat isteriku mengaji.

Di depan pintu kulihat masih banyak sepatu berjajar, ini pertanda acara belum selesai. Kuperhatikan sepatu yang berjumlah delapan pasang itu satu persatu. Ach, semuanya indah-indah dan kelihatan harganya begitu mahal. “Wanita, memang suka yang indah-indah, sampai bentuk sepatu pun lucu-lucu,” aku membathin sendiri. Mataku tiba-tiba terantuk pandang pada sebuah sendal jepit yang diapit sepasang sepatu indah. Dug..! Hati ini menjadi luruh. “Och….bukankah ini sandal jepit isteriku?” tanya hatiku. Lalu segera kuambil sandal jepit kumal yang tertindih sepatu indah itu.

Tes, tes…! Air mataku jatuh tanpa terasa,  Perih nian rasanya hati ini, kenapa baru sekarang sadar bahwa aku tak pernah memperhatikan isteriku. Sampai-sampai kemana ia pergi harus bersandal jepit kumal. Sementara teman-temannnya bersepatu bagus.

“Maafkan aku Aysha…”,  pinta hatiku.

“Krek…,” suara pintu terdengar dibuka. Aku terlonjak, lantas menyelinap ke tembok samping. Kulihat dua ukhty  berjalan melintas sambil menggendong bocah mungil yang berjilbab indah dan cerah, secerah warna baju dan jilbab ummienya.

Beberapa menit setelah kepergian dua ukhty itu, kembali melintas ukhty-ukhty yang lain. Namun, belum juga kutemukan Aysha-ku. Aku menghitung sudah delapan orang keluar dari rumah itu, tapi isteriku belum juga keluar.

Penantianku berakhir ketika sesosok tubuh ber-abaya gelap dan berjilbab hitam melintas. “Ini dia mujahidahku..!” pekik hatiku. Ia beda dengan yang lain, ia begitu bersahaja. Kalau yang lain memakai baju berbunga cerah indah, ia hanya memakai baju warna gelap yang sudah lusuh pula warnanya.

Diam-diam hatiku kembali dirayapi perasaan berdosa karena selama ini kurang memperhatikan isteri. Ya, aku baru sadar, bahwa semenjak menikah belum pernah membelikan sepotong baju pun untuknya. Aku terlalu sibuk memperhatikan kekurangan-kekurangan isteriku, padahal di balik semua itu begitu banyak kelebihanmu, wahai Aysha-ku.

 Aku benar-benar menjadi malu pada Allah dan Rasul-Nya. Selama ini aku terlalu sibuk mengurus orang lain, sedang isteriku tak pernah kuurusi. Padahal Rasul telah berkata:

Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya (istrinya) dan aku (Nabi SAW) adalah sebaik-baik kalian bagi keluargaku” (H.R. Tirmidzi dan Ibnu Majah)”

 

 Sedang aku..? Ach, kenapa pula aku lupa bahwa Allah menyuruh para suami agar menggauli isterinya dengan baik. Sedang aku…? terlalu sering ngomel dan menuntut isteri dengan sesuatu yang ia tak dapat melakukannya. Aku benar-benar merasa menjadi suami terdzalim!!!

“Aysha…!” panggilku, ketika tubuh ber-abaya gelap itu melintas. Tubuh itu lantas berbalik ke arahku, pandangan matanya menunjukkan ketidakpercayaan atas kehadiranku di tempat ini. Namun, kemudian terlihat perlahan bibirnya mengembangkan senyum. Senyum bahagia. “Abie…!” bisiknya pelan dan girang. Sungguh, aku baru melihat isteriku segirang ini. “Ach, kenapa tidak dari dulu kulakukan hal – hal seperti ini…?” sesal hatiku.

***

Esoknya aku membeli sepasang sepatu untuk isteriku. Ketika ia  tahu hal itu, senyum bahagia kembali mengembang dari bibirnya. “Alhamdulillah, jazakallahu bie…,”ucapnya dengan suara tulus.

 Ach Aysha…, lagi-lagi hatiku terenyuh melihat polahmu, dan saat bersamaan Lagi-lagi sesal menyerbu hatiku. Kenapa baru sekarang aku bisa bersyukur memperoleh isteri zuhud dan ‘iffah sepertimu..?

Kenapa baru sekarang pula kutahu betapa nikmatnya menyaksikan matamu yang berbinar-binar karena perhatianku…?

Ya Allah ya Robb…, berkahilah kami…

_______________________________________________

Semoga berguna bagi kita semua….amin ya rabbal alamien

Buat para mujahid dakwah..renungkanlah kisah sandal jepit ini, dan tanyalah hati kita sejauh mana perhatian kita (bukan hanya soal sandal dll) terhadap sosok makhluk bernama istri di tengah2 kesibukan kita…, Tanya…?

***************************************************************************************

Everything has to end here …

oleh Kak Abie Fillah pada 17 Juli 2010 jam 12:17

ketika malam menyelimuti jiwaku dan seluruh alam semesta menatap dengan lembut – jiwamu terlelap terbalut hangat dengan selimut yang ditenun dari benang-benang sutra cinta – aku ingin membisikkan ke dalam relung hatimu yang paling tersembunyi, satu cerita yang tertera di kitab kehidupan dengan tinta air mata, berderai mengisi celah-celah waktu…

Ada satu ketika, aku memandang ke dalam bening matamu, dan seluruh jiwa terasa begitu damai. Tenggelam dalam suatu kedalaman yang tak terselami. Seluruh jagat raya terasa hampa.

Dunia berhenti berputar dan aku melayang-layang dalam warna-warni pelangi yang membentang di angkasa. Terpana. Penuh diliputi haru biru saat dirimu menjadi semesta alamku. Jiwamu menjadi samudera yang tiada bertepi dan langit yang tiada berbatas.

Aku menutup mata, dan dalam kebutaan mataku kulihat dirimu gemulai dalam balutan gaun yang dirajut dari berjuta lintasan bintang jatuh. Bercahaya.

Aku tertunduk malu. Kucoba merajut bajuku sendiri, namun tiada seindah milikmu.

Dalam kehinaan diriku, kau mengulurkan jemarimu. Kau menggandeng tanganku. Kau bawa aku melayang bersama, dan seluruh jagat raya penuh terisi engkau dan aku. Kita bisa pergi ke mana saja, melakukan apa saja yang kita mau. Tapi kita tahu kita tidak perlu pergi ke mana pun. Kita hanya diam dan seluruh penghuni alam semesta memandang dengan takjub, cinta kita yang bercahaya terang benderang – matahari hanya seberkas bayangan yang redup.

Kita membisu, namun kebisuan kita saling bercerita tentang keindahan dan keagungan cinta kita. Dan kebisuan itu telah berkata-kata dalam bahasa yang hanya bisa dimengerti oleh para malaikat.

Cinta adalah engkau dan aku.

Prahara menjelma.

Kita masing-masing terhempas ke dalam dunia asing. Suara-suara riuh rendah, dalam bahasa yang tidak kita mengerti. Kita mencoba meraih dan mencari satu sama lain, tetapi semakin kita mencari terasa kita semakin jauh.

Wajah-wajah itu, wajah wajah yang tidak kita kenal silih berganti menghadirkan kebimbangan dalam diri kita. Menyeringai. Dan masing-masing diri kita dicekam rasa sepi yang seakan tiada berakhir. Saling merindu, namun tak kuasa diri untuk saling menyatu. Suara-suara aneh terus bergema di jiwa dan merasuki hati kita.

Kita mencoba berteriak, berharap suara kita dapat saling terdengar. Namun kita terlalu sibuk berteriak dan kita lupa untuk mendengar jeritan satu sama lain. Hingga suaraku tak pernah sampai ke telinga hatimu, begitu pula suaramu tak pernah tiba di ambang pendengaranku.

Lalu kita terisak, meratapi belahan jiwa yang telah direnggut dari diri kita. Bergetar, tak kuasa menahan cinta dan kerinduan yang begitu nyata.

Waktu pun berlalu…

Hingga satu ketika, setelah pelarian yang panjang dan melelahkan, aku tiba di ujung duniaku, ujung dari perjalanan kehidupanku. Aku memandang jauh ke depan, dan terlihat dirimu di sana, di ujung duniamu. Aku hendak berteriak memanggilmu ketika kau tanpa sengaja berpaling dan melihat ke arahku.

Waktu berhenti berputar.

Kita berpandangan. Dalam kebisuan yang lebih mencengkam dari kegelapan dunia orang mati, kita saling bertanya dalam hati,”Bagaimana mungkin kau bisa ada di situ?”

Kulihat kecantikanmu yang sudah mulai memudar, dan kau pun menatap keperkasaanku yang telah luntur. Tampak sayapmu rapuh – tinggal sebelah – dan sayapku pun demikian. Ke mana perginya cahaya yang dulu memancar dari diri kita, sampai saat ini pun aku tak tahu.

Kita saling mengulurkan tangan, tetapi jurang di antara kita begitu dalam dan gelap, membuat kita takut tergelincir dan terjatuh. Angin dingin bertiup menambah kebekuan antara kau dan aku.

Hingga pada akhirnya aku bertanya,”Maukah kau melompat bersama-sama denganku? Bila kita terjatuh, setidaknya kita sudah saling berpelukan sebelum kegelapan jurang menelan jiwa kita, atau kita akan bersama-sama mengepakkan sayap kita – mungkin dengan begitu kita bisa terbang.”

Kau tertunduk, dan perlahan-lahan berpaling.

Menjauh, meninggalkan aku dalam keheranan akan sikapku.

Waktu telah kembali berputar untukmu, tapi tidak bagiku. Dan aku masih berdiri di tepi jurang itu, memandangmu dari kejauhan, dengan rasa cinta yang tiada berakhir…

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

~*kau kah “Aysha Althafunnisa” itu…*~

oleh Kak Abie Fillah pada 07 Juli 2010 jam 15:51

Ruang yang biasanya dipakai oleh ustadzah Heni untuk mengisi kajian. Terlihat

deretan tengah terpampang tabir (kain pembatas) antara laki-laki dan wanita. Aku masuk

dalam ruang itu, sesuai dengan perintah ustad Fadlan.

Alhamdulillah, ternyata pikiranku salah! Aku benar-benar mengira kalau itu keluarga si

Akhwat. Hem.. pasti aku akan benar-benar kikuk kalau bertemu dengan si Akhwat

Sekarang. Gumamku sendiri

Tak seberapa lama ustad Fadlan datang dengan istrinya. Ustadzah Heni. Dengan cepat

ustadzah Heni langsung masuk pada ruangan tabir kedua.

“Gimana, ustad? Apa sudah selesai!” ucapku membuka percakapan.

“Alhamdulillah. Semuanya lancar!” jawab ustad Fadlan dengan senyum.

“Untuk ta’arufnya, jadi nggak ustad?” tanyaku penasaran.

“Ya pasti jadi, Akh! Nah akhwatnya kan sudah dari tadi diruang tabir kedua” Jawab

Ustad Fadlan.

Hatiku bagaikan diterjang gelombang pasang yang besar. Karena pastilah gumamku

didengar jelas si Akhwat. Entah, apakah aku masih siap menatap si Akhwat. Karena rasa

malu ku sudah teramat sangat.

“Oh!” kataku pasrah.

Ustad Fadlan hanya tersenyum.

“Assalamualaikum” terdengar ustadzah Heni, istri ustad Fadlan mengucap salam dari

balik tabir.

“Walaikumsalam” serempak aku dan ustad Fadlan menjawab salam.

“Gimana Bi, apa sudah bisa dimulai proses ta’arufnya” tanya ustadzah Heni pada ustad

Fadlan.

“Iya, bisa langsung dimulai!” ucap ustad Fadlan. “Silakan akh Khalid, untuk menanyakan

sesuatu hal yang ingin antum tanyakan” ucap lanjut ustad Fadlan, mempersilahkan.

Aku benar-benar kikuk. Entah malu, atau bahkan malu-maluin. Mulutku bagaikan

terkunci. Berat sekali untuk membuka sebuah percakapan. Apalagi bertanya tentang

sesuatu hal pada si Akhwat.

“Echm…” ustad Fadlan memperingatkan aku untuk segera bertanya.

Tak seberapa lama langsung ustadzah Heni berkata “Abi, biarkan akh Khalid. Biasalah,

perjumpaan pertama sama-sama malu. Nanti juga kalau sudah jadi suami istri, pasti

sama-sama mau”

Ustad Fadlan langsung tertawa, sambil mengatakan “Umi, ada-ada saja!”

Aku hanya tersenyum malu. Entah, mungkin si Akhwat juga tersenyum malu dibalik

tabir.

“Assalamualaikum, Ukhti” salamku pada si Akhwat.

“Walaikumsalam” jawab si Akhwat dengan lembut.

Sejenak hatiku berdesir. Mendengar suara si Akhwat yang benar-benar lembut. Sungguh

kelembutan suara yang pernah aku dengar. Kelembutan suara yang membuat

bulukudukku merinding. Tetapi tetap, aku tidak boleh tertipu suaranya.

“Nama anti, Aysha…?” tanyaku,

“Iya!” jawabnya singkat

“Ukhti, sudah kerja apa masih kuliah” tanyaku.

“Ana, masih kuliah!” jawabnya singkat.

“Apa anti sudah siap, menikah dengan ana Ukh?” tanyaku lagi

“Ana, siap!” jawabnya. Lagi-lagi dengan singkat.

“Ana cuma mau mengingatkan anti. Kalau ana, belum kerja! Masih berstatus mahasiswa.

Dan keluarga ana bukan dari keluarga yang kaya. Bisa digolongkan, dari golongan menengah

kebawah” kataku apa adanya…

“Akhi, ana pengen menikah dengan antum bukan karena harta antum. Atau bahkan

jaminan antum! Kalaulah antum belum bekerja. Asal antum mau, pasti ada pekerjaan

buat antum! Ana cuma mengingatkan antum saja. Bahwa antum, tidak akan bisa

memberikan ana jaminan kepastian untuk bisa menghidupi ana! Kalaulah ana menikah

dengan antum, antum bukanlah penjamin hidup ana. Atau bahkan bisa memberikan

nafkah kepada ana! Allahlah yang menjamin rezeki tiap-tiap umatnya. Lalu kenapa kita

harus takut untuk melangkah dalam pernikahan, karena alasan soal rezeki atau nafkah.

Semua serahkan ke Allah. Kalau ana jadi istri antum, ana siap hidup menderita karena

harta. Tetapi berlimpah-limpah keimanan! Dan ingat akh, menikah juga termasuk salah

satu pintu rezeki..!

Subhanallah ucapku lirih dalam hati. Yaa Allah, aku siap menikah sekarang juga, kalau

engkau memang memberikan bidadari ini padaku. Ucapannya lembut, tutur katanya

Santun, Tidak menggurui, Tetapi tetap dalam dihati. Sungguh bidadari yang turun

kebumi. Apakah engkau “Althafunnisa” yang selama ini aku impikan…, Entah siapa dia. Pokoknya aku sudah tidak butuh lagi wajah cantiknya. Aku tidak butuh lagi keindahan dan kemerduan suaranya. Asal wanita ini siap berjalan denganku menuju Jannah Illahi. Aku akan menikahinya. Tetapi tetap, kalau bisa sich yang cantik dan mempunyai kemerduan suara yang seperti ini he…he…


++++++++++###########=================****************

::: DOA yang TERABAIKAN :::

oleh Kak Abie Fillah pada 06 Juli 2010 jam 11:59

berdoa tanpa letih
Doa-doa yang kau lantunkan
menggugurkan keraguanku
Bait-bait doa cinta menggema teguhkan hatiku
Tanpa lelah
Tanpa letih
Kau hembuskan doamu
Kau berdoa walau hatimu terluka
Kau panjatkan doa yang kan
melukai luka di hatimu
Kau hiasi air mata
di setiap kata yang kau ucap
Maafkan aku yang tlah ragukan
Tulusnya doamu…
 
********

Kepada Melati Putih


kau tahu mengapa pelangi itu indah…?
apakah karena warnanya…?
atau karena bentuknya…?bukan itu…!
karena dia hadir ketika hujan berhenti…
seperti itu pula aku mengakhiri ini semua,selamat tinggal…
 
bukalah lembaran barumu
aku kan selalu berdoa untukmu…
aku hanya ingin kamu tersenyum sekarang…:)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s