~* Karena KITA Begitu DI Cintai ALLAH *~

Posted abie sabiella –  May 7, 2009 *

 

Dalam perjalanan hidup ini seringkali kita merasa kecewa. Kecewaaa sekali. Sesuatu yang luput dari
genggaman, keinginan yang tidak tercapai, kenyataan yang tidak sesuai harapan. Akhirnya angan ini lelah berandai-andai ria, sungguh semua itu telah hadirkan nelangsa yang begitu menggelora dalam jiwa.

Kenapa semua ini harus terjadi pada diriku, salah apa aku, dosa apa aku…
Pertanyaan bodoh itu pun terlontar…
Itulah kita…
Kita yang lemah…
Kita yang tak berdaya…

Dan sungguh sangat beruntung andai dalam saat-saat terguncangnya jiwa
masih ada setitik cahaya dalam kalbu untuk merenungi kebenaran. Masih
ada kekuatan untuk melangkahkan kaki mencari ilmu, mencari makna hidup, mencari rejeki,
menggapai kebahagian yang akan mengantarkan pada ketentraman jiwa.


“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan; “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang orang yang benar dan, sesungguhnya Dia mengetahui orang orang yang dusta.” (Surah Al-Ankabut ayat 2-3)

“Dan Sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”. (Surah Al-Baqarah ayat 155 – 156)

Dari Anas Rhadiallahu’an, bahwasannya Rasulullah Muhammad Shalallahu alaihi wassalam bersabda : “Sesungguhnya besarnya balasan/ganjaran sama dengan besarnya cobaan, dan sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta ala  apabila mencintai suatu kaum maka Allah menurunkan cobaan kepada mereka, maka barangsiapa yang rela maka baginya Ridho Allah, dan barang siapa yang marah, maka baginya murka Allah. ( HR Tirmidzi dan Ibnu Majah )

Hidup ini ibarat belantara. Tempat kita mengejar berbagai keinginan. Dan memang
manusia diciptakan mempunyai kehendak, mempunyai keinginan. Tetapi
tidak setiap yang kita inginkan bisa terbukti, tidak setiap yang kita
mau bisa tercapai. Dan tidak mudah menyadari bahwa apa yang bukan
menjadi hak kita tak perlu kita tangisi. Banyak orang yang tidak sadar
bahwa hidup ini tidak punya satu hukum: harus sukses, harus bahagia
atau harus-harus yang lain.

…boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula
kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah
mengetahui sedang kamu tidak mengetahuinya.” (Al-Baqarah :216)

Betapa banyak orang yang sukses tetapi lupa bahwa sejatinya itu semua pemberian Allah hingga membuatnya sombong dan bertindak sewenang-wenang. Begitu juga kegagalan sering  tidak dihadapi dengan benar. Padahal dimensi dari kegagalan adalah tidak tercapainya apa yang memang bukan hak kita. Padahal hakekat  kegagalan adalah tidak terengkuhnya apa yang memang bukan hak kita.

Apa yang memang menjadi bagian dari kita di dunia, entah itu rejeki,
jabatan, kedudukan pasti akan Allah sampaikan. Tetapi apa yang memang
bukan milik kita, ia tidak akan kita bisa miliki, meski ia nyaris
menghampiri kita, meski kita mati-matian mengusahakannya.

Demikian juga bagi yang sedang galau terhadap jodoh. Kadang kita tak sadar
mendikte Allah tentang jodoh kita, bukannya meminta yang terbaik tetapi
benar-benar mendikte Allah: Pokoknya harus dia Ya Allah… harus dia,
karena aku sangat mencintainya. Seakan kita jadi yang menentukan
segalanya, kita meminta dengan paksa.

Dan akhirnya kalaupun Allah memberikanya maka tak selalu itu yang terbaik. Bisa jadi Allah tak
mengulurkanya tidak dengan kelembutan, tapi melemparkanya dengan marah karena niat kita yang terkotori.

Maka wahai jiwa yang sedang gundah, dengarkan ini dari Allah : Maka setelah ini wahai jiwa…,
jangan kau hanyut dalam nestapa jiwa berkepanjangan terhadap apa-apa
yang luput darimu.

Setelah ini harus benar-benar dipikirkan bahwa apa-apa yang kita rasa perlu didunia ini harus benar-benar perlu bila ada relevansinya dengan harapan kita akan bahagia di akhirat. Karena seorang “baik” tidak hidup untuk dunia tetapi menjadikan dunia untuk mencari hidup yang sesungguhnya: hidup di akhirat kelak..!
Maka itu jangan sampai menjalani pilihan hidup ini dengan kondisi terpaksa, dipaksa, ataupun memaksakan diri.

Bukankah kita di berikan kesempatan tuk memilih…?

“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan jalan sabar dan mengerjakan sholat; dan sesungguhnya sholat itu amatlah berat kecuali kepada orang-orang yang khusyuk”
(Surah Al-Baqarah ayat : 45)

“Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan selain dariNYA. Hanya kepadaNYA aku bertawakkal.”
(Surah At-Taubah ayat 129)

http://profiles.friendster.com/abisabiella#moreabout

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s